
Mengapa orang yang lebih social berhasil sedangkan yang IQ-nya sedang banyak yang gagal?
Pertama – tama kita pahami dulu bahwa kecerdasan Emosi (EQ) bukanlah lawan dari kosien kecerdasan (IQ), EQ justru melengkapi IQ seperti halnya kecerdasan Akademik dan ketrampilan kognetif.
Penelitian menunjukan bahwa sebenarnya kondisi Emosi mempengaruhi fungsi otak dan kecepatan kerjanya (Cyber dalam kemper). Penelitian menunjukan bahwa kemampuan Intelektual Albert Einstein yang luar biasa itu mungkin berhubungan baik dengan bagian otak yang mendukung fungsi psikologisnya, yang disebut Amygdala. Meskipun demikian, EQ dan IQ berbeda dalam hal mempelajari dan memperbaikinya.
IQ merupakan potensi genetic yang terbesar saat lahir dan menjadi mantap pada usia tertentu saat Pra-pubertas dan sesudah itu tidak bias lagi dikembangkan atau ditingkatkan. Sebaliknya, EQ bias dipelajari, dikembangkan dan ditingkatkan pada segala umur. PEnelitian justru menunjukan bahwa kemapuan kita untuk mempelajari EQ meningkat dengan bertambahnya usia.
Perbedaan lain IQ merupakan kemampuan ambang yang hanya bias menunjukan jalan bagi karir kita atau membuat kita bekerja di bidang tertentu, Sedangkan EQ berjalan dijalan itu dan mempromosikan kita dibidang itu. Oleh karena itu keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan unsure penting dalam keberhasilan manajerial sampai tingkat tertentu.
IQ mendorong kinerja produktif, tapi kompetensi berbasis-IQ dianggap “kemampuan ambang”, artinya kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan rata – rata, Sebaliknya kompetensi dan keterampilan berbasis EQ jauh lebih efektif, terutama pada tingkat organisasi yang lebih tinggi ketika perbedaan IQ dapat di abadikan. Dalam studi perbandingan antara orang yang kinerjanya cemerlang dan yang biasa – biasa saja pada organisasi tingkat tinggi perbedannya 85% disebabkan oleh kompetensi berbasis-EQ, bukan IQ.
Dr. Goleman Mengatakan bahwa walaupun organisasi berbeda, kebutuhanya berbeda. Ternyata EQ menyumbangkan 80-90% untuk memprediksikan keberhasilan dalam Organisasi. Secara umum kami merujuk kepada studi kasus yang dilakukan oleh Dr. Goleman dan dua peneliti EQ terkenal lainnyauntuk menganalisi bagaimana kompetensi EQ berkontribusi bagi laba yang didapatkan oleh sebuah firmaakuntansi yang besar
Pertama, IQ dan EQ diuji dan dianalisis secara mendalam, kemudian mereka diorganisasi kedalam kelompok kerja dan masing – masing kelompok diberi penelitian mengenai satu bentuk kompetensi EQ,seperti manajemen diri dan keterampilan social. Sebagai control adalah satu kelompok yang terdiri atas orang – orang yang ber-IQ tinggi. Ketika dilakukan evaluasi nilai tambah ekonomi yang diberikan kompetensi EQ dan IQ hasilnya sangat mencengangkan, kelompok dengan keterampilan social tinggi menghasilkan skor peningkatan laba 110%. Sedangkan yang di bekali manajemen diri mencatat peningkatan laba 390%. Peningkatan $ 1.465.000 /tahun. Sebaliknya, kelompok dengan kemampuan kognetif dan analitik tinggi. Yang mencerminkan IQ, hanya menambah laba 50%. Artinya IQ memang meningkatan kinerja tetapi terbatas karena hanya merupakan kemampuan ambang.
Kompetisi berbasis EQ jelas jauh lebih mendorong kinerja.
5 April 2009 at 9:35 AM |
BUSTY: Need more info about Ass showing? You are welcome on site http://josephra.angelfire.com !
WIFE: http://josephra1.tripod.com Tattooed whore and Mercedes stockings about Final fantasy girl.
7 April 2009 at 11:13 AM |
Questions and answers about Body row weight and Extreme weight loss pill here http://blogprohealth.com !
Tired of searching for Order? This way http://blogprorealestate.com !